Tambang Terbuka
















Indonesia Adalah negara yang kaya akan alamnya yang membuat para investor baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri melirik untuk menanamkan modalnya, terutama dibidang pertambangan Batubara. Memang akhir-akhir ini dunia pertambangan jadi primadona dimana banyak perusahaan yang menanamkan modalnya.

Metode tambang di indonesia pada umumnya adalah tambang terbuka, dimana membutuhkan banyak biaya dan daerah penambangan yang cukup luas.Daerah penambangan hampir merata diseluruh pelosok tanah air.Contoh yang paling kongkrit adalah kalimantan hampir seluruh propensi terdapat perusahaan tambang terkemuka di Indonesia.

Perusahaan tambang yang tersebar diseluruh pelosok kalimantan pada umumnya adalah tambang terbuka atau open pit.Ciri-ciri tambang ini adalah pembukaan lahan/hutan yang akan dijadikan lahan penambangan yang cukup luas dan eksploitasi sumber alam secara besar-besaran.



Tambang Terbuka – juga disebut tambang permukaan– hanya memiliki nilai ekonomis apabila lapisan batubara berada dekat dengan permukaan tanah. Metode tambang terbuka memberikan proporsi endapan batubara yang lebih banyak daripada tambang bawah
tanah karena seluruh lapisan batu bara dapat dieksploitasi – 90% atau lebih dari batu bara dapat diambil. Tambang terbuka yang besar dapat meliputi daerah berkilo-kilo meter persegi dan menggunakan banyak alat yang besar, termasuk: dragline (katrol penarik), yang memindahkan batuan permukaan; power shovel (sekop hidrolik); truk-truk besar, yang mengangkut batuan permukaan dan batu bara; bucket wheel excavator (mobil penggali serok); dan ban berjalan (belt Conveyor). Batuan permukaan yang terdiri dari tanah dan batuan
dipisahkan pertama kali dengan menggunakan peledakan (Blasting); batuan permukaan tersebut kemudian diangkut dengan menggunakan katrol penarik atau dengan sekop dan truk. Setelah lapisan batu bara terlihat, lapisan batu bara tersebut digali, dipecahkan kemudian ditambang secara sistematis dalam bentuk jalur-jalur. Kemudian batu bara dimuat ke dalam Dump Truk atau ban berjalan untuk diangkut ke pabrik
pengolahan batu bara atau langsung ke tempat dimana batu bara tersebut akan digunakan.
By Setiawan

Selengkapnya...

Tambang Dalam

Pada kesempatan kali ini saya akan berbagi pengetahuan tentang tambang batu bara.
Batu bara ditambang dengan dua metode yaitu metode tambang terbuka (open pit mining) dan tambang bawah tanah (underground mining).
Pemilihan metode penambangan sangat ditentukan oleh unsur geologi endapan batu bara. Saat ini, tambang bawah tanah menghasilkan sekitar 60% dari produksi batu bara dunia, walaupun beberapa negara penghasil batu bara yang besar lebih menggunakan tambang permukaan. Tambang terbuka menghasilkan sekitar 80% produksi batu bara di Australia, sementara di AS, hasil dari tambang permukaan sekitar 67%.


Tambang Bawah Tanah


















Ada dua metode tambang bawah tanah: tambang room and pillar dan tambang longwall.
Dalam tambang room-and-pillar, endapan batu bara ditambang dengan memotong jaringan ‘ruang’ ke dalam lapisan batu bara dan membiarkan ‘pilar’ batu bara untuk menyangga atap tambang. Pilar-pilar tersebut dapat memiliki kandungan batu bara lebih dari 40% – walaupun batu bara tersebut dapat ditambang pada tahapan selanjutnya. Penambangan batu bara tersebut dapat dilakukan dengan cara yang disebut retreat mining (penambangan mundur),
dimana batu bara diambil dari pilar-pilar tersebut pada saat para penambang kembali ke atas. Atap tambang kemudian dibiarkan ambruk dan tambang
tersebut ditinggalkan.

Tambang longwall mencakup penambangan batu bara secara penuh dari suatu bagian lapisan atau ‘muka’ dengan menggunakan gunting-gunting mekanis. Tambang longwall harus dilakukan dengan membuat perencanaan yang hati-hati untuk memastikan adanya geologi yang mendukung sebelum dimulai kegiatan penambangan. Kedalaman permukaan batu
bara bervariasi di kedalaman 100-350m. Penyangga yang dapat bergerak maju secara otomatis dan digerakkan secara hidrolik sementara menyangga atap tambang selama pengambilan batu bara. Setelah batu bara diambil dari daerah tersebut, atap tambang dibiarkan ambruk. Lebih dari 75% endapan batu bara dapat diambil dari panil batu bara yang dapat memanjang sejauh 3 km pada lapisan batu bara. Keuntungan utama dari tambang room–and-pillar daripada tambang longwall adalah, tambang roomand-pillar dapat mulai memproduksi batu bara jauh lebih cepat, dengan menggunakan peralatan bergerak dengan biaya kurang dari 5 juta dolar (peralatan
tambang longwall dapat mencapai 50 juta dolar).

Pemilihan teknik penambangan ditentukan oleh kondisi tapaknya namun selalu didasari oleh
pertimbangan ekonomisnya; perbedaan-perbedaan yang ada bahkan dalam satu tambang dapat
mengarah pada digunakannya kedua metode penambangan tersebut.


By Setiawan

Selengkapnya...

Proses Terbentuknya Emas

Emas adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki simbol Au (bahasa Latin: 'aurum') dan nomor atom 79. Sebuah logam transisi (trivalen dan univalen) yang lembek, mengkilap, kuning, berat, "malleable", dan "ductile". Emas tidak bereaksi dengan zat kimia lainnya tapi terserang oleh klorin, fluorin dan aqua regia. Logam ini banyak terdapat di nugget emas atau serbuk di bebatuan dan di deposit alluvial dan salah satu logam coinage. Kode ISOnya adalah XAU. Emas melebur dalam bentuk cair pada suhu sekitar 1000 derajat celcius.

Emas merupakan logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa, kekerasannya berkisar antara 2,5 – 3 (skala Mohs), serta berat jenisnya tergantung pada jenis dan kandungan logam lain yang berpadu dengannya. Mineral pembawa emas biasanya berasosiasi dengan mineral ikutan (gangue minerals). Mineral ikutan tersebut umumnya kuarsa, karbonat, turmalin, flourpar, dan sejumlah kecil mineral non logam. Mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan endapan sulfida yang telah teroksidasi. Mineral pembawa emas terdiri dari emas nativ, elektrum, emas telurida, sejumlah paduan dan senyawa emas dengan unsur-unsur belerang, antimon, dan selenium. Elektrum sebenarnya jenis lain dari emas nativ, hanya kandungan perak di dalamnya >20%.


Emas terbentuk dari proses magmatisme atau pengkonsentrasian di permukaan. Beberapa endapan terbentuk karena proses metasomatisme kontak dan larutan hidrotermal, sedangkan pengkonsentrasian secara mekanis menghasilkan endapan letakan (placer). Genesa emas dikatagorikan menjadi dua yaitu:

<> 74 mikron) dan dalam membentuk emas murni yang bebas (free native gold).
Proses amalgamasi merupakan proses kimia fisika, apabila amalgamnya dipanaskan, maka akan terurai menjadi elemen-elemen yaitu air raksa dan bullion emas. Amalgam dapat terurai dengan pemanasan di dalam sebuah retort, air raksanya akan menguap dan dapat diperoleh kembali dari kondensasi uap air raksa tersebut. Sementara Au-Ag tetap tertinggal di dalam retort sebagai logam.

Proses Sianidasi terdiri dari dua tahap penting, yaitu proses pelarutan dan proses pemisahan emas dari larutannya. Pelarut yang biasa digunakan dalam proses cyanidasi adalah NaCN, KCN, Ca(CN)2, atau campuran ketiganya. Pelarut yang paling sering digunakan adalah NaCN, karena mampu melarutkan emas lebih baik dari pelarut lainnya. Secara umum reaksi pelarutan Au dan Ag adalah sebagai berikut:


4Au + 8CN- + O2 + 2 H2O = 4Au(CN)2- + 4OH-
4Ag + 8CN- + O2 + 2 H2O = 4Ag(CN)2- + 4OH-


Pada tahap kedua yakni pemisahan logam emas dari larutannya dilakukan dengan pengendapan dengan menggunakan serbuk Zn (Zinc precipitation). Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

2 Zn + 2 NaAu(CN)2 + 4 NaCN +2 H2O = 2 Au + 2 NaOH + 2 Na2Zn(CN)4 + H2

2 Zn + 2 NaAg(CN)2 + 4 NaCN +2 H2O = 2 Ag + 2 NaOH + 2 Na2Zn(CN)4 + H2


Penggunaan serbuk Zn merupakan salah satu cara yang efektif untuk larutan yang mengandung konsentrasi emas kecil. Serbuk Zn yang ditambahkan kedalam larutan akan mengendapkan logam emas dan perak. Prinsip pengendapan ini mendasarkan deret Clenel, yang disusun berdasarkan perbedaan urutan aktivitas elektro kimia dari logam-logam dalam larutan cyanide, yaitu Mg, Al, Zn, Cu, Au, Ag, Hg, Pb, Fe, Pt. setiap logam yang berada disebelah kiri dari ikatan kompleks sianidanya dapat mengendapkan logam yang digantikannya. Jadi sebenarnya tidak hanya Zn yang dapat mendesak Au dan Ag, tetapi Cu maupun Al dapat juga dipakai, tetapi karena harganya lebih mahal maka lebih baik menggunakan Zn. Proses pengambilan emas-perak dari larutan kaya dengan menggunakan serbuk Zn ini disebut “Proses Merill Crowe”.

By Setiawan

Selengkapnya...

Pengertian Reklamasi















Tujuan dari reklamasi adalah untuk mengembalikan lahan bekas tambang mendekati ke rona awal sebelum di tambang. Reklamasi secara awam diartikan sebagai menciptakan daratan baru di lahan yang sebelumnya terdiri dari air. Reklamasi telah dilaksanakan oleh manusia sejak beberapa abad yang lalu.. Misalnya reklamasi Pulau Macau yang dilakukan sejak abad 17 telah berhasil merubah Macau dari sebuah pulau kecil hingga menjadi semenanjung dan dari luas pulau 15 square kilometer pada tahun 1972 menjadi 16.1 square kilometer pada tahun 1983 lalu menjadi 21.3 square kilometer pada tahun 1994 hingga akhirnya menjadi 23.6 square kilometer pada tahun 2000. Bahkan aktivitas reklamasi juga telah dilakuka dalam rangka membangun kota Washington DC, yang dibangun diatas rawa-rawa. Demikian pula Bendungan Aswan yang terkenal di dunia, dibangun melalui reklamasi yang dimulai pada tahun 1902.

Pengertian lain dari reklamasi yang dihubungkan dengan kegiatan pertambangan yaitu suatu usaha memperbaiki atau memulihkan kembali lahan dan vegetasi dalam kawasan hutan yang rusak sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan dan energi agar dapat berfungsi secara optimal sesuai dengan peruntukannya.

Istilah lain yang berkaitan dengan reklamasi yaitu rehabilitasi lahan dan revegetasi. Rehabilitasi lahan adalah usaha memperbaiki, memulihkan kembali dan meningkatkan kondisi lahan yang rusak (kritis), agar dapat berfungsi secara optimal, baik sebagai unsur produksi, media pengatur tata air maupun sebagai unsur perlindungan alam lingkungan. Revegetasi merupakan suatu usaha atau kegiatan penanaman kembali lahan bekas tambang.

Berdasarkan keputusan menteri kehutanan dan perkebunan tentang pedoman reklamasi bekas tambang dalam kawasan hutan pada BAB 2 PASAL 3 berisi tentang tujuan reklamasi yaitu untuk memulihkan kondisi kawasan hutan yang rusak sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan dan energi sehingga kawasan hutan yang dimaksud dapat berfungsi kembali sesuai dengan peruntukannya.

By Setiawan


Selengkapnya...

Mineralogi Dan Unsur Kimia

















Di bumi kita ini bnyak sekali mineral-mineral yang telah dimanfaatkan oleh manusia, tahu kah anda jenis mineral dan apa-apa saja unsur yang terkandung di dalamnya, Mineral yang terdapat dialam ada yang merupakan unsur bebas, ada pula yang merupakan gabungan dari beberapa unsur yaitu berupa senyawa:

Mineral sebagai unsur kimia bebas (native element), misalnya yaitu :


Cu = Cuprum = Copper = tembaga

Au = Aurum = Gold = emas

Pt = Platinum = Platina

S = Sulphur = Sulfur = belerang

C = Carbon = Diamont = intan

C = Carbon = Graphite = grafit

Mineral sebagai senyawa dapat digolongkan menjadi beberapa macam, yaitu

1. Sulfida

Cu2S = Chalcocite = Kalkosite

Fe S2 = Pyrite = Pirit

Cu FeS2 = Chalcophyrite = kalkopirit

Cu Co2S4 = Carrolite = karolit

Ag2 S = Argentite

Pb S = Galena

Zn S = Sphalerite = sfalerite

= Zincblende

Hg S = Sinabar

2. Halida :

Na Cl = Halite = Halit

KCl = Silvite = Silfit

KCl Mg Cl2 6H2O = Carnalite = Karnalite

Na3AlF6 = Kryollite = Kriolit

Ag CL = Serargirit

Ca F2 = Flourite = Flourit

3. Oksida

Si O2 = Quartz = Kuarts

Si O2 = Chalcedony = Kalsedon

Si O2 ( H2O) x = Opal

Al2 O3 = Corundum = korundum

Al2 O3 2 H2O = Bauxite = Bauksite

Sn O2 = Cssiterite = Kasiterit

Fe2 O3 = Hematite = Hematit

4. Hidroksida

Mg ( OH)2 = Bruchite = brukit

MnO (OH) = Manganite = mangan

AlO (OH) = Diaspore

FeO ( OH) = Geothite = Geotit

FeO (OH) nH2O = Limonite

5. Karbonat

CaCO3 = Calsite = kalsit

Ca CO3 = Aragonite = aragonit

Ca CO3 Mg CO3 = Ca Mg (CO3)2 = dolomite

6. Nitrat

Na NO3 = Soda Nitrat = Natrium Nitrat

KNO3 = Kalium Nitrat = Potasium Nitrat

7. Pospat

Ca5 (P.Cl.OH) (PO4)3 = Apatite = Apatit

Ca3 (PO4)3 = Phosphorite = Fosforite

Fe3 (PO4)3 5 H2O = Vivianite = vivianit

Li Al F PO4 = Ambligonite = Ambligonit

8. Sulfat

Ba5 SO4 = Barite = Barit

Ca SO4 = Anhidrite = Anhidrit

Ca5 SO42H2O = Gypsum = Gipsum

K Al3 (OH)3 (SO4)2 = Alunite = Alunit

9. Silikat :

Non –Ferromagnesian silicate

a). Calc.Alkali Feldsfar ( Ca/Na Feldspar) = Plagioclase =plagioklas

a. Ca (Al 2 Si 2 O8 = Anorthite = An 10- Ab1An9

b. Ca, Na (Al 2 Si 2 O8 ) = Bytownite = Ab 1 An9 - Ab3 An7

c. Ca, Na (Al 2 Si 2 O8 ) = Labradorite = Ab3 An7 - Ab5 An5

d. Ca, Na (Al 2 Si 2 O8 ) = Andesin = Ab5 An9 - Ab7 An3

e. Ca, Na (Al 2 Si 2 O8 ) = Oligoclase = Ab7 An3 - Ab9 An1

f. Na Al 2 Si 3 O8 = Albite = Ab10 - Ab3 An1

b. Alkali Feldspar ( K. Na Feldspar)

a. K Al Si 3 O8 = Orthoclase = Artoklas

( K, Na) Al Si 3 O8)

b. ( K, Na) Al Si 3 O8 = Sanidine = Sanidin

c. K Al Si 3 O8 = Microline = mikrolin

d. ( Na, K) Al Si 3 O8 = Anorthoclase = Anortoklas

c). Mika Putih

K Al3 Si 3 O10 ( OHF)2 = Muscovite = Muskovit

Ferromagnesian silicate

(Mg. Fe )2 Si O4 = Olivin

Ca( Mg.Fe) (Si O3)2 [ ( Al, Fe )2O3 ]x = pyroxene = piroksen

Ca( Mg.Fe Al)5 ( OH)2 (Si. Al )4 O11I2 =Hornblende
K2( Mg.Fe)2 ( OH)2 (Al Si 3 O10) = Biotote =Biotit = Mika Hitam

By Setiawan Selengkapnya...

Mineral




















Mineral Merupakan benda padat yang homogen yang terdapat di alam terbentuk secara anorganik dengan komposisi kimia tertentu dan mempunyai atom-atom yang tersusun secara teratur.

Warna & Pleokroisme
Terjadinya warna merupakan akibat dari gejala serapan cahaya yang melintasi kristal yang sedang bergetar sejajar dengan arah getar polarisator.

Ukuran mineral
Dapat dihitung dari perbesaran lensa okuler dan lensa objektif, dapat pula langsung dengan mikrometer objek atau penggaris. Umumnya untuk ukuran skala pada mineral adalam dengan (skala mm)


Ditinjau dari keutuhan mineralnya dapat dibagi :
Euhedral jika seluruhnya dibatasi oleh bidang kristalnya sendiri
* Subhedral jika sebagian dibatasi oleh bidang kristalnya sendiri
* Anhedral jika tidak dibatasi oleh bidang kristalnya sendiri.

By Setiawan Selengkapnya...

Management Stockpile
















Pada kesempatan ini saya inigin membahas tentang management stockpile.
Stockpile Management berfungsi sebagai penyangga antara pengiriman dan proses. sebagai sediaan strategis terhadap gangguan yang bersifat jangka pendek atau jangka panjang. Stockpile juga berfungsi sebagai proses homogenisasi dan atau pencampuran batubara untuk menyiapkan kualitas yang dipersyaratkan.


Disamping tujuan di atas di stockpile juga digunakan untuk mencampur batubara supaya homogenisasi bertujuan untuk menyiapkan produk dari satu tipe material dimana fluktuasi di dalam kualitas batubara dan distribusi ukuran disamakan . Dalam proses homogenisasi ada dua tipe yaitu bleding dan mixing

Blending bertujuan untuk memperoleh produk akhir dari dua atau lebih tipe batubara yang lebih dikenal dengan komposisi kimia dimana batubara akan terdistribusi secara merata dan tanpa ada lagi jumlah yang cukup besar untuk mengenali salah satu dari tipe batu bara tersebut ketika proses pengambilan contoh dilakukan. Dalam proses blending batubara harus tercampur secara merata. Sedangkan mixing merupakan salah satu tipe batubara yang tercampur masih dapat dilokasikan dalam kuantitas kecil dari hasil campuran material dari dua atau lebih tipe batubara.

Proses penyimpanan, bisa dilakukan:
*Dekat tambang, biasanya masih berupa lumpy coal
*Dekat Pelabuhan
*Ditempat Pengguna batubara

untuk proses penyiapan diharapkan jangka waktunya tidak lama, karena akan berakibat pada penurunan kualitas batubara. Proses penurunan kualitas biasanya lebih dipengaruhi oleh proses oksidasi dan alam.


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam Management stockpile adalah sebagai berikut:

1.Monitoring quantity (Inventory) dan movement batubara di stockpile, meliputi recording batubara yang masuk (coal in) dan recording batubara yang keluar (coal out) di stockpile, termasuk recording batubara yang tersisa (coal balance)
2.Menghindari batubara yang terlalu lama di stockpile, dapat dilakukan dengan penerapan aturan FIFO dimana batubara yang terdahulu masuk harus dikeluarkan terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi resiko degradation dan pemanasan batubara.
3.Mengusahakan pergerakan batubara sekecil mungkin di stockpile, termasuk di antaranya mengatur posisi stock dekat dengan reklame, Monitoring efektivitas dozin di stock pile dengan maksud mengurangi degradasi batubara.
4.Monitoring quality batubara yang masuk dan keluar dari stockpile termasuk diantara control temperatur untuk mengantipasi self heating dan spocom.
5.Pengawasan yang ketat terhadap kontaminasi, meliputi pelaksanaan housekeeping dan Inspeksi langsung adanya pengotor yang terdapat di stockpile.
6.Perhatian terhadap faktor lingkungan yang bisa ditimbulkan, dalam hal ini mencakup usaha :

*Contral dus dan penerapan dan pengawasan penggunaan spraying dan dust supressant
*Adanya tempat penampungan khusus (fine coal trap) untuk buangan /limbah air dari drainage stockpile
*Penanganan limbah batubara (remnant & spilage coal)

7.Tidak dianjurkan menggunakan area stockpile untuk parkir dozer, baik untuk keperluan Maintenance dozer atau over shift operator. Kecuali dalam keadaan emergency dan setelah itu harus diadakan house keeping secara teliti.
8.Menanggulangi batubara yang terbakar di stockpile. Dalam hal ini penanganan yang dianjurkan sebagai berikut:

*Melakukan speading atau penyebaran untuk mendinginkan suhu batubara
*Bila kondisi cukup parah, maka bagian batubara yang terbakar dapat dibuang
*Memadatkan batubara yang mengalami self heating atau sponcom.
*Batubara yang mengalami sponcom tidak diperbolehkan langsung diloading ke tongkang sebelum didinginkan terlebih dahulu.
*Untuk penyimpanan yang lebih lama bagian atas stockpile harus dipadatkan guna mengurangi resapan udara dan air ke dalam stokpile.

9.Sebaiknya tidak membentu stockpile dengan bagian tas yang cekung, hai ini dimaksudkan untuk menghindari swamp di atas stokpile
10.Mengusahakan bentuk permukaan basement berbentuk cembung atau minimal datar, hal ini berkaitan dengan kelancaran sistem drainage.

Spontanous Combustion

Pembakaran secara spontan adalah merupakan fenomena alami dan juga disebut pembakaran sendiri. Hal ini disebabkan terjadinya reaksi zat organic dengan oxygen dari udara. kecepatan reaksi oksidasi sangat bervariasi antara suatu zat dengan yang lainnya.

Pembakaran akan terjadi apabila terdapat segi tiga api atau dikenal sebagai fire triangle yakni terdapat bahan bakar,oksidan (udara/oxygen) dan panas (heat). untuk meniadakan kebakaran sedikitnya kita harus meniadakan salah satu komponen dari fire triangle tersebut.

Batubara sebagai zat organik yang mengandung gas methan, mudah terbakar karena beroksidasi dengan oxygen dari udara. Spontanous kebakaran ini dapat dikontrol dan ditangani secara benar dengan mengetahui faktor faktor dibawah ini:

1.Kondisi batubara antara lain:
*Rank batubara dan typenya
*Kadar air (moisture)
*Penyebaran ukuran (zise distribution)
*Kadar pyretic sulphur
*Komponen maceral

2.Rank batubara
Rank batubara sangat ditentukan oleh perubahan yang terjadi ditanaman asalnya makin tinggi perubahannya makin tinggi mutu / rank batubara tersebut hal ini tidak dapat diubah karenan dari alam yang dapat dilakukan adalah memilih batubara dari lokasi tambang yang cocok untuk keperluan, rank batubara dibagi dalam dalam dua ranking:

*Batubara rangking rendah (brow coal, lignit, sub-bituminus coal)
*Batubara rangking tinggi (bituminus coal dan anthrace)
*Semakin rendah rank batubara semakin tinggi resiko spontaneous kebakaran, hal ini disebabkan :

*Kadar air, air bertindak sebagai katalis dalam proses oksidasi, semakin tinggi kadar air semakin besar resiko terjadinya spontaneous kebakaran
*Penyebaran ukuran batubara, semakin besar perbedaan ukuran butiran batubara semakin mudah terjadi self combustion dan begitu juga semakin banyak jumlah batubara halus (fines) semakin tinggi resiko pembakaran batubara.
*Pyritic sulpur, senyawa ini mudah teroksidasi apabila panas dan ahirnya kan terjadi pembakaran spontan.
*Komponen marecal (vitrinite, exinite dan inertinite) batubara dengan kadar exinite dan virtinite yang tinggi akan mudah terbakar.

Salah satu usaha mencegah terjadinya batubara terbakar adalah dengan menghindari masuknya oksigen ke dalam batubara dengan cara:

*Kompasi pile
*Mengusahakan bentuk landai dari stock batubara di stockpile dan menghindari bentuk vertikal
*Menghindari penggunaan air pada batubara yang memanas karena hal ini akan menambah masuknya Oksigen.

By Setiawan Selengkapnya...

Lignit Sebagai Bahan Bakar Pembangkit Listrik

Di masa sekarang banyak sekali manfaat-manfaat dari batubara, oleh karena itu banyak juga orang-orang yang mencari batubara untuk dimanfaatkan, makanya didaerah saya banyak sekali perusahaan-perusahaan batubara.
Pada kesmpatan ini saya ingin memberi tahu macam-macam manfaat dari batubara tapi kali ini saya hanya menjelaskan salah satunya saja yaitu tentang pemanfaatan batubara muda untuk pembangkit listrik.
Indonesia adalah termasuk negara dengan sumber tambang batu bara terbesar di dunia. Cadangannya diperkirakan 36,3 milyar ton. Hanya saja 50-85 persennya berkualitas rendah. Ini dilihat dari nilai kalori pembakarannya yang rendah, dan kadar sulfur serta airnya yang tergolong tinggi. Karena itu, batu bara muda yang disebut juga batu bara lignit atau batu bara cokelat tidak ekonomis dimanfaatkan sebagai bahan bakar.Bila sumber energi ini dibawa ke lokasi yang jauh dari areal tambang, maka biaya transportasinya menjadi mahal. Karena ongkos angkut itu sebenarnya dikeluarkan untuk membawa air dan abu yang nantinya harus dibuang dalam proses pemanfaatan batu bara.
Ketika dibakar, banyak energi yang terbuang untuk menguapkan air, sedangkan nilai kalori yang diperoleh relatif rendah. Selain itu, kandungan sulfur yang tinggi akan menjadi gas pencemar. Karenanya diperlukan biaya tambahan untuk mengurangi emisi gas sulfur.
Dengan adanya masalah tersebut, bila terdapat lapisan batu bara lignit dalam penambangan batu bara, maka penambang hanya mengambil lapisan yang berkualitas tinggi. Sedangkan batu bara lignit akan disingkirkan atau ditimbun kembali di lokasi tambang.


Pemanfaatan lignit














Belakangan ini, dengan dihapusnya subsidi BBM (bahan bakar minyak) yang melambungkan harga BBM di Indonesia, batu bara mulai dilirik. bahan bakar ini lebih murah dibandingkan BBM. Bila menggunakan solar atau Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), harga listrik mencapai Rp 500 per kWh. Dengan batu bara, biaya pembangkitan hanya sekitar Rp 50 per kWH. Dengan demikan akan menghemat biaya kurang lebih Rp 30 milyar per tahun.
Namun, untuk menggunakan batu bara-dalam hal ini batu bara muda sebagai bahan bakar pembangkit-perlu ada pendekatan khusus, masalahnya karena ada faktor kendala, yaitu kandungan air dan sulfur yang tinggi.
Solusi yang diambil adalah membangun instalasi pembangkit dekat daerah pertambangan batu bara, sehingga biaya transportasi minimal. Selain itu juga dikembangkan teknis proses pembakaran batu bara muda yang dapat mereduksi gas sulfur ke udara sehingga pencemaran gas ini pun dapat ditekan.
Pemanfaatan lignit ini sebagai bahan bakar pembangkit listrik di mulut tambang, sebenarnya pernah dirintis pada tahun 1997 oleh BPPT beker ja sama dengan HRL (Herman Research Laboratory) Technology Pty Ltd Australia, PT Bukit Asam, Departemen Pertambangan dan Energi, serta PT PLN. Namun menurut penjelasan Bambang Gambiro, Direktur Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi BPPT, kepada Kompas akhir Juli lalu, proyek itu terhenti pada tahun 1998 karena krisis ekonomi.
Padahal menurut rencana akan dilakukan uji coba penggunaan batu bara muda dari Tanjung Enim Sumatera Selatan dan beberapa tempat di Indonesia, menggunakan sistem proses IDGCC (Integrated Drying Gasification Combine Cycle). Pengembangan teknologi IDGCC ini sendiri di Australia, telah dimulai sejak tahun 1990.
Dasar prosesnya pada pengeringan dan gasifikasi batu bara untuk digunakan pada turbin gas siklus ganda. Karena menggunakan siklus pembakaran ganda, efisiensi konversi energi dengan teknologi IDGCC dapat dinaikkan dari 29 persen menjadi 42 persen. Hasil penelitian dan evaluasi ekonominya menunjukkan, teknologi itu layak dan ekonomis.
Pembangkit listrik 10 MW yang menggunakan sistem IDGCC di Morwell Victoria mampu memproses 240 ton batu bara muda per hari. Riset yang dilakukan HRL antara lain bertujuan mengurangi biaya pembangkitan dan emisi gas CO2 yang dikeluarkan pembangkit listrik batu bara muda.
PLTU Berau
Upaya pemanfaatan batu bara mulai dirintis lagi tahun 2002. Kali ini akan dicoba menggunakan batu bara muda di Berau, Kalimantan Timur. Peletakan batu pertama pembangunan PLTU Mulut Tambang ini telah dilakukan Menristek Hatta Rajasa, Bupati Berau H Masdjuni, Dirut PT Berau Coal Jeffry Mulyono
upaya pemenuhan kebutuhan listrik bagi masyarakat daerah ini telah diprogram cukup lama oleh Pemda Kabupaten Berau. Selama ini energi listrik yang dipasok PT PLN (Persero) Ranting Tanjung Redep menggunakan PLTD telah maksimal memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.
Ini terlihat dari daya pembangkitan yang mampu dihasilkan PLTD sekitar 5,6 MW sedangkan beban puncaknya telah mencapai 5,4 MW. “Akibatnya, PLN terpaksa melakukan pemadaman secara bergilir bila terjadi kerusakan mesin,” ungkapnya. Sementara itu, permintaan penyambungan listrik sebesar 9,6 juta kWh namun yang terpenuhi baru 7,9 juta kWh. Masih kurang sekitar 1,6 juta kWh.
PLTU Berau merupakan upaya pemanfaatan potensi batu bara muda yang melimpah dan mengurangi pemakaian solar. Dengan demikian juga akan menggantikan fungsi diesel yang biaya operasinya mahal. Proyek ini juga sebagai pilot project bagi daerah lainnya yang kaya dengan batu bara kalori rendah.
Tambang batu bara PT Berau Coal saat ini menggunakan daya sebesar 3,3 MW dengan produksi batu bara sekitar 6 juta ton per tahun. Sekarang ini kebutuhan daya listrik PT Berau Coal dipasok sendiri dari PLTD milik PT Berau Coal dengan bahan bakar solar.
selain Berau beberapa kabupaten di Kalimantan Timur telah menandatangani MoU untuk pembangunan fasilitas yang sama yaitu dengan Sangata, Malinau, dan Tanjung Redeb. Sedangkan Kabupaten Pasir juga telah menyatakan keinginannya.
PLTU Mulut Tambang ini lokasinya berada di Desa Sambakungan, Kecamatan Gunung Tabur yang dikenal dengan nama daerah Lati itu dibangun atas kerja sama antara PT Indonesia Power, Pemda Kabupaten Berau, PT Berau Coal, dan BPPT. Proyek ini rencananya akan selesai pembangunannya pada bulan Agustus-September 2003, dan beroperasi secara komersial pada akhir tahun 2003.
PLTU berkapasitas 2×6 MW tersebut, jelas Kepala Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Sumber Daya Energi BPPT Agus Rusjana Hoetman, – yang mendesain pabrik tersebut- menggunakan sistem modul sehingga pembangunannya bisa menghemat biaya sekitar 30 persen. Biaya pembangunannya sekitar 10,5 juta dollar AS.
Instalasi pembangkit ini terdiri dari dua boiler stoker yang mampu membakar batu bara buangan dari berbagai peringkat tanpa menimbulkan masalah dalam pencapaian efisiensi dan memenuhi persyaratan lingkungan.
Desulfurisasi
Meskipun menggunakan batu bara dengan kandungan sulfur tinggi sekitar 1.7 – 3 persen, namun pembangkit listrik ini dilengkapi dengan peralatan desulfurisasi sehingga diharapkan kadar SO2 yang dihasilkan tidak lebih dari 750 ppm sesuai dengan baku mutu lingkungan hidup. Demikian juga dengan efek pencemaran lainnya.
Instalasi PLTU pengoperasiannya dengan kendali jarak jauh dari ruang kontrol menggunakan sistem kontrol berbasis microprocessor. Sedang penyaluran kepada masyarakat dilakukan dengan menggunakan sistem pendistribusian yang sudah ada, yaitu distribusi 20 kV, mengikuti jalur substation Lati ke substation Sambaliung yang melewati area di sekitar proyek.
Bahan baku batu bara akan diangkut dari tambang Lati yang dimiliki PT Berau Coal dengan menggunakan dump truk dari area penumpukan batu bara buangan (reject) di tambang Lati ke PLTU yang berjarak sekitar 2 kilometer. Luas areal tambang batu bara di Berau seluas 15.600 hektar, yang berada di Binungen, Lati, Punan, dan Kelai. Di Lati sendiri kawasan penambangannya seluas 6.984 hektar.
By Setiawan
Selengkapnya...

Kekar (Joint)

Gambar Kekar (Joint)









Kali ini saya ingin menceritakan sedikit tentang Kekar dan macamnya.
Kekar merupakan rekahan relatif tanpa mengalami pergeseran pada bidang rekahannya.
Sesar merupakan suatu bidang rekahan yang telah mengalami pergeseran (D.M. Ragen, 1973).

Jadi biasanya kekar terjadi terlebih dahulu kemudian terbentuk sesar.

Kekar atau rekahan ditinjau dari ukurannya dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu :
a. Mikro joint
b. Master joint
ditinjau dari bentuknya kekar dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu :
a. Kekar sistematik
b. Kekar tak sistematik
ditinjau dari cara terbentuknya kekar dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :
a. Kekar pengkerutan
b. Kekar lembaran
c. Kekar tektonik
ditinjau dari genesanya kekar tektonik ini dibagi lagi menjadi dua yaitu :
a. Kekar gerus (shear joint)
b. Kekar tarik (Tension joint ) dibagi atas :
1. Extension joint
2. Release joint
ditinjau dari kedudukan bidang lapisan batuan, kekar ini dibedakan menjadi :
- Dip joint
- Strike joint
- Bedding joint
- Diagonal joint

By Setiawan

Selengkapnya...

Jenis Dan kelas Batubara

Tahu kah anda bahwa batubara terdiri dari kelas-kelas batubara dan jenis-jenis batubara.
Berdasarkan dari tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas dan waktu, batubara pada umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit, bituminus, sub-bituminus, lignit dan gambut.


Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling rendah.

Lignit atau batubara coklat adalah batubara yang sangat lunak yang mengandung air 35-75% dari beratnya.

Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh karenanya menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan jenis Bituminus.

Bituminus mengandung 68 - 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari beratnya. Kelas batubara yang paling banyak ditambang di Australia.

Antrasit adalah kelas batubara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster) metalik, mengandung antara 86% - 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8%.



By Setiawan



Selengkapnya...

Jarak Aman Dalam Peledakan


















Berhubung nanti saya akan PKL dan tema PKL saya tentang peladakan, jadi gak salahnya saya berbagi informasi tentang Peledakan ( Blasting )...
kali ini saya akan menulis tentang jarak aman dala peledakan...

Terdapat empat kategori utama kecelakaan kerja yang berhubungan dengan peledakan, yaitu :
(1) keselematan dan keamanan lokasi peledakan.
(2) batu terbang atau flyrock,
(3) peledakan premature (premature blasting) dan
(4) misfre (peledakan mangkir).
Kasus yang terjadi di Adaro merupakan salah satu jenis kecelakaan kerja yang ditenggarai disebabkan oleh arah peledakan (keselamatan peledakan) dan terkena batuan hasil peledakan yang dapat dikategorikan sebagai flyrock (pada jarak yang dekat). Ini merupakan situasi yang masuk akal karena seorang juru ledak memang berada di daerah yang paling dekat dengan pusat kegiatan peledakan. Hal ini merupakan salah satu contoh perlunya pengetahuan yang lebih mendalam dalam hal blasting management system (system pengaturan atau pengontrolan peledakan) terhadap semua yang terlibat di dalam kegiatan peledakan. Dalam suatu peledakan terdapat banyak hal-hal yang harus diperhatikan untuk mendapatkan hasil peledakan sesuai dengan yang diinginkan oleh tambang yang bersangkutan. Batuan yang diledakkan dalam hal ini bisa berwujud batu bara itu sendiri dan batuan penutup (overburden and interburden). Dalam tambang emas kita mempunyai istilah waste (sampah) dan ore (bijih emas) yang harus diledakkan untuk memudahkan pengangkutan dan pencucian atau proses permurnian bahan galian yang ditambang.
Kegiatan peledakan di tambang merupakan salah satu kegiatan yang dianggap mempunya resiko cukup tinggi. Tapi bukan berarti kegiatan tersebut tidak dapat dikontrol. Proses pemgontrolan kegiatan ini dapat dimulai dari proses pencampuran ramuan bahan peledak, proses pengisin bahan peledak ke lubang ledak, proses perangakain dan proses penembakan. Dalam kasus ini yang memegang peranan penting adalah kontrol terhadap proses penembakan. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan adalah sebagi berikut.


- Desain peledakan.

Bagian ini memegang peranan penting dalam mengurangi kecelakaan kerja yang berhubungan dengan aktivitas peledakan. Rancangan peledakan yang memadai akan mengidentifikasi jarak aman; jumlah isian bahan peledak per lubang atau dalam setiap peledakan; waktu tunda (delay period) yang diperlukan untuk setiap lubang ledak atau waktu tunda untuk setiap baris peledakan; serta arah peledakan yang dikehendaki. Jika arah peledakan sudah dirancang sedemikian rupa, juru ledak dan blasting engineer harus berkordinasi untuk menentukan titik dimana akan dilakukan penembakan (firing) dan radius jarak aman yang diperlukan. Ini perlu dilakukan supaya juru ledak memahami potensi bahaya yang berhubungan dengan broken rock hasil peledakan and batu terbang (flyrock) yang mungkin terjadi.

- Training kepada juru ledak.

Hal ini sangat penting dilakukan, karena sumber daya ini memegang peranan penting untuk menerjemahkan keinginan insinyur tambang yang membuat rancangan peledakan. Hal ini sudah diatur dalam Keputusan Menteri, yang mengharuskan setiap juru ledak harus mendapatkan training yang memadai dan hanya petugas yang ditunjuk oleh Kepala Teknik Tambang yang bersangkutan yang dapat melakukan peledakan. Juru ledak dari tambang tertentu tidak diperbolehkan untuk melakukan peledakan di tambang yang lain karena karakterisktik suatu tambang yang berbeda-beda.

- Prosedur kerja yang memadai.

Prosedur kerja atau biasa disebut SOP (Safe Operating Procedure) ini memegang peranan penting untuk memastikan semua kegiatan yang berhubungan dengan peledakan dilakukan dengan aman dan selalu mematuhi peraturan yang berlaku, baik peraturan pemerintah maupun peraturan di tambang yang bersangkutan. Prosedur ini biasanya dibuat berdasarkan pengujian resiko (risk assessment) yang dilakukan oleh tambang tersebut sebelum suatu proses kerja dilakukan. Prosedur ini mencakup keamanan bahan peledak, proses pengisian bahan peledak curah, proses perangakaian bahan peledak , proses penembakan (firing) termasuk jarak aman dan clearing daerah disekitar lokasi peledakan.

Jarak aman pada suatu peledakan (safe blasting parameter) saat ini memang tidak mempunyai standard yang dibakukan, termasuk tambang-tambang di Australia. Di dalam Keputusan Menteri-pun, tidak dijelaskan secara detail berapa jarak yang aman bagi manusia dari lokasi peledakan. Hal ini disebabkan oleh setiap tambang mempunyai metode peledakan yang berbeda-beda tergantung kondisi daerah yang akan diledakkan dan tentu saja hasil peledakan yang dikehendaki. Akan tetapi bukan berarti setiap juru ledak boleh menentukan sendiri jarak aman tersebut. Keputusan mengenai keselamatan khususnya jarak aman tersebut berada pada seorang Kepala Teknik Tambang yang ditunjuk oleh perusahaan setelah mendapat pengesahan dari Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang. Di tambang-tambang terbuka di Indonesia, jarak aman terhadap manusia boleh dikatakan hampir mempunyai kesamaan yaitu dalam kisaran 500 meter.

Dari mana jarak ini diperoleh? Jelas seharusnya dari hasil risk assessment (pengujian terhadap resiko) yang telah dilakukan di tambang-tambang tersebut. Risk assessment ini tidak saja berbicara secara teknik peledakan dan pelaksaannya, namun perlu juga dimasukkan contoh-contoh hasil perbandingan dari tambang-tambang yang ada baik di dalam ataupun luar negeri. Jarak aman dari hasil risk assessment inilah yang seharusnya menjadi acuan bagi pembuatan prosedur kerja dalam lingkup pekerjaan peledakan di lapangan. Walaupun ada beberapa tambang yang membuat standard yang lebih kecil dari 500 meter; tapi hal itu diperbolehkan sepanjang risk assessment sudah dilakukan dan sudah disetujui oleh Kepala Teknik Tambang yang bersangkutan. Biarpun tidak menutup kemungkinan terjadinya pelanggaran terhadap jarak aman dari peledakan, akan tetapi seorang juru ledak yang kompeten semestinya akan mentaati aturan dan prosedur kerja. Pelanggaran prosedur kerja akan berakibat fatal, baik bagi diri dia sendiri, teman kerja maupun ada perusahaan tempat dia bekerja.

By Setiawan

Selengkapnya...

Definisi Sesar (Fault)



Sesar merupakan rekahan atau zona rekahan pada batuan yang telah mengalami peregeseran.
Pergeseran pada sesar bisa terjadi sepanjang garis lurus (translasi) atau terputar (rotasi). Sesar merupakan struktur bidang dimana kedudukannya dinyatakan dalam jurus dan kemiringan.
Separation (pergeseran relatif semu) adalah jarak yang terpisah oleh sesar dan diukur pada bidang sesar. Komponen dari sparation dapat diukur pada arah tertentu, umumnya sejajar jurus atau arah kemiringan bidang sesar.
Slip (pergeseran relatif sebenarnya) adalah pergeseran relatif sebenarnya pada sesar, diukur dari blok satu keblok yang lain pada bidang sesar dan merupakan pergeseran titik-titik yang sebelumnya berimpit. Total pergeseran disebut juga ”Net slip”.
Throw (loncatan vertikal) adalah jarak yang diukur pada bidang vertikal dari slip/sparation.
Heave (loncatan Horizontal) adalah jarak yang diukur pada bidang horizontal.
Footwall adalah blok tubuh batuan yang terletak dibawah bidang sesar.
Hangingwall adalah blok tubuh batuan yang terletak di atas bidang sesar.


Klasifikasi Sesar
Sesar dapat diklasifikasikan dengan pendekatan geometri yang berbeda. Beberapa klasifikasi diantaranya adalah:
- berdasarkan hubungan dengan struktur lain (sesar bidang perlapisan, sesar longitudinal, sesar transversal).
- berdasarkan pola kumpulan seasar (sesar radial, sesar pralel, sesar en echelon).
Aspek terpenting dari geometri sesar adalah pergeseran. Atas dasar ini, sesar dapat diklasifikasikan sebagi berikut:
A. Berdasarkan Sifat Pergerakan Relatif Semu
1. Strike separation fault adalah pergeseran relatif semu searah dengan jurus bidang sesar, yang terdiri dari:
a. Strike left separation fault
Jika kita berdiri disuatu blok dari suatu sesar maka akan terlihat jejak pergeseran semu pada blok yang lain bergeser kearah kiri.
b. Strike right separation fault
Jika kita berdiri disuatu blok dari suatu sesar maka akan terlihat jejak pergeseran semu pada blok yang lain bergeser kearah kanan.
2. Dip separation fault adalah pergeseran relatif semu searah dengan kemiringan bidang sesar, yang terdiri dari :
a. Normal sparation fault
Jika sesar dilihat penampang vertikal, jejak pergeseran pada footwall ditemukan d8i atas jejak yang sama pada hangingwall.
b. Reverse separation fault
Jika sesar di lihat pada penampang vertikal, jejak pergeseran pada footwall dtemukan di bawah jejak yang sama pada hangingwall.
B. Berdasarkan Sifat Pergeseran Relatif Sebenarnya
1. Strike slip fault adalah pergeseran relatif semu sesarh dengan jurus bidang sesar, yang etrdiri dari:
a. Strike left slip fault
Jika kita berdiri di suatu blok dari suatu sesar maka akan terletak jejak pergeseran sebenarnya pada blok yang lain bergeser kearah kiri.
b. Strike right slip fault
Jika kita berdiri di suatu blok dari suatu seasr maka akan terlihat jejak pergeseran sebenarnya pada blok yang lain bergeser kearah kanan.
2. Dip Slip fault adalah pergeseran relatif sebenarnya searah dengan kemiringan bidang sesar, yang terdiri dari:
a. Normal slip fault
Blok hangingwall relatif turun terhadap footwall.
b. Reverse slip fault
Blok hangingwall bergerak relatif naik terhadap footwall.
Untuk sesar vertical : tentukan salah satu blok relative bergerak terhadap blok lain, contoh “Vertikal dip slip fault”.
3. Oblique slip fault adalah pergeseran miring relative sebernarnya terhadap bidang sesar. Untuk penamaan sesar ini dipakai kombinasi istilah “dip slip dan strike slip” seperti dibawah ini
a. Normal left slip fault
b. Normal right slip fault
c. Reverse left slip fault
d. Reverse right slip fault
e vertical oblique slip fault.
4. Sesar Rotasi adalah yeng memperlihatkan pergeseran berputar pada bidang sesarnya.
a. Clokwise rotation fault
Blok yang berlawanan bergerak searah jarum jam.
b. Anticlokwise rotation fault
Blok yang berlawanan bergerak berlawanan arah jarum jam

Analisa Struktur Sesar
Sesar adalah struktur rekahan yang telah mengalami pergeseran. Sifat pergeserannya dapat bermacam-macam, mendatar, miring (oblique), naik dan turun. Didalam mempelajari struktur sesar, disamping geometrinya yaitu, bentuk, ukuran, arah, dan polanya, yang penting juga untuk diketahui adalah mekanisme pergerakannya.

Sesar dan Struktur Penyerta
Gejala sesar seringkali disertai dengan gejala struktur yang lain, misalnya kekar, lipatan, drag fold (lipatan seretan), breksiasi abibat sesar, milonit, filonit dan sebagainya. Struktur-struktur ini sangat penting untuk membantu didalam analisis tentang pergerakan sesar.
A. Kekar dan Urat (vein)
Kekar adalah gejala yang umum terdapat dalam batuan. Kekar dapat terbentuk karena tektonik (deformasi) dan dapat terbentuk juga secara non tektonik (pada saat diagenesa, proses pendinginan dsb). Dalam hal ini kita membatasi pada jenis kekar yang terbentuk secara tektonik.
Kekar merupakan salah satu struktur yang sulit diamati, sebab kekar dapat terbentuk pada setiap waktu kejadian geologi, misalnya sebelum terjadinya suatu lipatan,atau terbentuknya semua struktur tersebut. Hal ini yang juga merupakan kesulitan adalah tidak adanya atau relatif kecil pergeseran dari kekar, sehingga tidak dapat ditentukan kelompok mana yang terbentuk sebelum dan sesudahnya.
Secara kejadiannya (genetik) kekar dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu:
a. Kekar gerus (shear fracture) : adalah rekahan yang bidang-bidangnya terbentuk karena adanya kecenderungan untuk salin bergeser (sghearing).
b. Kekar tarik (extention fractire) : adalah rekahan yang bidang-bidangnya terbentuk karena adanya kecenderungan untuk saling menarik (meregang).
Extension farcture dapat dibendakan sebagai:
• Tension fracture : ialah kekar tarik yang bidang rekahnya searah dengan arah tegasan.
• Relese fracture : ialah rekekar yang terbentuk akibat hilangnya atau pengurangan tekanan dan tegak lurus terhadap gaya utama.
B. Breksi sesar dan Milonit
Bidang sesar biasanya trerisi oleh bahan-bahan faregmental yang disebut ”Breksi sesar”. Adakaalanya bahan ini agak lunak dan hancur yang disebut sebagai ”Gouge”, juga pada batuan metamorf menunjukkan lembar-lembar yang berupa struktur aliran. Pada bagian yang sangat intensif tingkat kehancurannya 9deformasi), zona sesar dapat berupa serbuk berbutir halus dan lunak yang disebut ”milonit”.
Gejala-gejala ini merupakan bukti-bukti yang dapat dipakai untuk menduga kelurusan dan kemenerusan dari jalur sesar. Arah-arahnya misalnya didapatkan dari orientasi memanjangnya fragmen atau jalur breksiasi, arah bidang-bidang gerusan (shearing) dan milonit dan sebagainy. Arah ini akan membantu untuk menentukan bidang sesar.
C. Struktur seretan (drag)
Struktur seretan (fault drag atau drag fold) adalah gejala penyerta disekitar bidang sesar yang terbentuk akibat pergerakan sesar. Struktur ini dapat menunjukkan gerak relatif sebenarnya. Struktur ini tampak pada perlapisan atau bidang foliasi.
Ada 2 macam seretan (drag) yang dapat terbentuk yaitu ”seretan normal” (normal fold) dan ”seretan naik” (reverse drag).
D. Cermin sesar (slickensides) dan Gores garis (striation)
Slickensides atau cermin sesar adalah gejala yang tampak pada permukaan bidang-bidang yang tergeser. Dapat terbentuk pada bidang sesar atau bidang-bidang kekar yang menyertainya. Struktur tersebut merupakan bidang-bidang halus, dan goresan-goresan (striations) yang seolah-olah dipoles. Seringkali disertai dengan jenjang-jenjang (steps), yang merupakan kekar yang terbentuk akibat gerak relatif dari bidang itu.

Metoda hukum dihedral (didres droitis)
Setiap bidang sesar dapat dibagi oleh bidnag bantu (plan auxiliaire) menjadi empat dihedral (diedres droitis). Bidang bantu adalah bidang yang tegaklurus kepada tegasan gerus dan gores-garis serta mengandung tegasan normal (σn ).
Dua dehedra yang berlawanan disebut dominan tekanan (compression) dan dua yang lainnya disebut tarikan (extension) sebagai fungsi dari arah pergerakan sesar.Dinyatakan secara jelas sebagi dihedral pendekatan (shortening) diamana terdapat (σ1 )dan dihedral pemanjangan (lengtening) dimana terdapat (σ3).
Istilah-istilah tersebit sangat umum dalam seismologi terutama pada perhitungan mekanisme pusat gempa(focal mecanism). Dalam menyajikan metoda tersebut diterapkan dan dibenarkan penggunaan hukum-hukum dihedral (diedres droitis) pada aplikasi penelitian tentang kondisi mekanik yangs esuai dengan satu proses gempa bumi (seismik).

Beberapa Konsep dalam interpretasi struktur
Interpretasi struktur dapat dilakukan pada skala yang beragam, padaskala yang mikro, pada suatu jalur sesar sampai pada suatu wilayah. Untuk itu perlu dibuat batasan dan asumsi untuk menerapkan teori-teori yang ada. Salah satu kendala lain didalam interpretasi struktur adalah batasan ”waktu”, yaitu kejadian atau generasi dari struktur tersebut. Oleh karena itu perlu diperhatikan apabila dari beberapa struktur yang ada berlainan waktu kejadiannya, artinya berbeda sejarah tektoniknya.
Beberapa konsep dikembangkan diantaranya oleh Moody dan Hill (1956) yang membahas tentang urutan kejadian struktur berdasarkan arah tegasan atau gaya yang bekerja pada suatu wilayah. Konsep lain dikembangkan oleh Tchalenko (1970) dan Harding (1973) yang menjelaskan bahwa pada gerak sesar mendatar, gejala yang terdapat pada jalur sesar adalah komponen gerak kopel yang bekerja akibat seasar tersebut. Gerak kopel tersebut menghasilkan komponen tarik atau extension (E) dan komponen tekan atau compression (C).
Perbedaan dari model Moody dan Hill dan Harding adalah arah gaya pembentukknya. Bila Moody dan Hill mebngunakan pure shear sebagai gaya penyebab terbentuknya shear. Sedangkan Harding mengunakan simple shear.

Penyelesaian Geometri didalam pergerakan sesar
Prinsip ataupun model tentang kinematika dan dinamika struktur seringkali, dan akan lebih mudah ditampilkan dalam gambaran dua dimensi, yaitu pada tampak peta penampang. Bebrapa contoh yang dipakai sebagai analisis pergerakan sesar diantaranya
• Hubungan antara tegasan utama dan pola kekar gerus yang berpasangan atau sesar mendatar utama.
• Hubungan antara sesar atau jalur sesar dengan struktur kekar (tension gash dan shear) atau lipatanminor yang menyertainya.
• Hubungan antara dan pola keterakan (strain ellips) didalam jalur sesar.
Dari bebrapa prinsip ini secara teoritis dapat diketahui sifat gerak sesar sebenarnya (slip). Didalam skala kecil sifat gerak sebenarnya ini misalnyadapat terlihatpada gores-garis (striations) pada cermin sesar (slickenside). Pada kasusu yang lebih umum, kedudukan dan sifat gerak ini harus ditentukan dengan menerapkan kaidah teori atau model yang berlaku. Gerak suatu sesar tidak selau mutlak mendatar seperti tampak pada peta, normal atau naik apada penampang, akan tetapi dapat bervariasi antara ketiga jenis geraktersebut. Oleh karenaitu kaidah atau model dan interpretasi gerak sesar sebenarnya harus dapat dibatyangkan dalam gambar tiga dimensi.

Penentuan Pergeseran Blok Sesar
Pada bidang sesar dan blok sesar (dapat berupa hanging wall atau foot wall) sering terdapat petununjuk yang mengidentifikasikan adanya pergeseran. Petunjuk dapat berupa kenampakan fisik yang sejajar atau tegak lurus pergeseran pada bidang sesar (gores garis, tensison gash, compression fracture, rekristalisasi, fault step dsb.) Berdasarkan pengamatan kenampakan fisik tersebut secara teliti akan dapat membantu untuk penentuan pergeseran sewaktu sesar terbentuk.

Penentuan Arah Tegasan
Tegasan yang menyebabkan terjadinya sesar dapat ditetapkan secara grafis melaui bantuan proyeksi stereografis. Data yang diperlukan adalah kedudukan bidang sesar ( jurus dan kemiringan), sudut pitch gores garis dan arahnya, jenis pergeseran sinistral dan dekstral). Tegasan σ2 terletak pada bidang sesar dan tegak lurus gores garis (bidang B). Tegasan σ1 dan σ3 terletak pada bidang yang tegak lurus σ2 (bidang T). Dengan demikian bidang B dan T saling tegak lurus, sehingga σ2 menjadi tegak lurus σ1 dan σ3. Bidang T dan bidang sesar saling tegak lurus, keduanya berpotongan menuruti gores garis.
Kedudukan σ1 memebentuk sudut lancip terhadap gores garis. Sesar terbentuk melalui bidang retakan yang sebelumnya telah ada. Kedudukan sesar sangat dipengaruhi oleh kedudukan kekar yang telah ada sebelumnya. Kedudukan kekar pada batuan dapat beragam, sehingga apabila berkembang menjadi sesar karan adanya tegasan tektonik dengan satu arah tertentu, maka sesar yang akan dihasilkan dapAt beragam pula jenisnya, yaitu dapat menjadi sesar naik, turun dan geser mendatar. Jenis pergeserannya juga dapat mengiri dan menganan. Dengan demikian dapat juga ditemukan pada satu singkapan adanya sesar minor yang beda jenis maupun macam pergeserannya meskipun penyebabnya adalh tegasan tektonik yang masih sama.

By Setiawan

Selengkapnya...

Asam Dan Basa

Mengukur Keasaman dan Kebasaan

Tingkat keasaman dapat diukur dari besarnya transfer keasaman sebuah proton ke dalam air dan kemudian menghasilkan ion hydronium H3O+.

Tingkat kebasaan dapat diukur dari besarnya kemampuan larutan basa untuk membuang/menghilangkan proton dari dalam air.

Skala yg digunakan mengukur tingkat keasaman dan kebasaan adalah pH Scale.

Besarnya keasaan dan kebasaan dapat diketahui dari kehadiran besarnya ion H3O+ maupun OH- di dalam larutan air. Skala tersebut dikenal sebagai pH meter.

Gambar PH Scale





















By Setiawan Selengkapnya...